SBNpro.com
Jumat, Agustus 21, 2026
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO
No Result
View All Result
SBNpro.com
No Result
View All Result
SBNpro.com
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO
ADVERTISEMENT
Home Siantar

Penulisan Pematang Siantar Harus Dipisah, Ini Tanggapan Sejarawan

SBNPro.com by SBNPro.com
21/07/2022
A A
Penulisan Pematang Siantar Harus Dipisah, Ini Tanggapan Sejarawan
294
SHARES
640
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

SBNpro – Siantar

Plt Walikota Siantar terbitkan Surat Edaran Nomor 180/4335/VII/2022 tentang penulisan kata (nama kota) Pematang Siantar.

Surat diterbitkan 21 Juli 2022, dan ditujukan kepada pimpinan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) di lingkungan Pemko Pematang Siantar dan BUMD.

Pada surat edaran itu ditegaskan, agar penulisan nama kota berhawa sejuk ini tidak lagi digabung, seperti Pematangsiantar, melainkan menjadi Pematang Siantar.

Hal itu dilakukan, merujuk ke UU Darurat Nomor 8 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota-kota Besar dalam Lingkup Daerah Provinsi Sumatera Utara dan PP Nomor 15 Tahun 1986 tentang Perubahan Batas Wilayah.

Terkait perubahan penulisan Pematang Siantar disikapi Sejarawan dari Universitas Simalungun (USI), Jalatua Hasugian MA, Kamis (21/07/2022).

Bagi Jalatua, perubahan penulisan nama kota yang semula Pematangsiantar (digabung) menjadi Pematang Siantar (dipisah), agar tidak dilakukan mendadak, seperti saat ini.

Karena selayaknya, perubahan dapat dilakukan setelah Pemko Siantar melakukan kajian secara ilmiah, serta memperhatikan budaya.

“Sehingga jelas dulu landasan hukumnya. Mengapa sekarang dipisah, dan sejak kapan disatukan. Bukan mendadak begini,” ucap Jalatua.

Jalatua mengakui, di jaman penjajahan, penulisannya dipisah. “Memang jika mengacu pada dokumen-dokumen kolonial Belanda, mereka memang menuliskan Pematang Siantar, bukan Pematangsiantar,” ungkapnya.

Sehingga, Dosen FKIP Sejarah USI ini meminta Pemko Pematang Siantar memiliki kemampuan untuk menjelaskan perubahan penulisan nama Kota Pematang Siantar secara logis dan yuridis.

Dalam hal ini, pemerintah harus memiliki alasan yang kuat, sehingga perubahan dilakukan saat ini. “Mengapa baru sekarang dirubah? Juga menjelaskan apa untung ruginya jika dipisah maupun disatukan?” tanya Jalatua.

Pandangan seperti itu diungkap Jalatua, karena menurutnya tidak cukup landasannya bila hanya mengacu kepada UU Darurat Nomor 8 Tahun 1956 dan PP Nomor 15 Tahun 1986.

“Berarti selama ini Pemko Siantar membiarkan kesalahan terjadi berpuluh tahun?” tanyanya.

Sementara itu, Kabag Hukum Heri Okstarizal mengatakan, secara yuridis Pemko Pematang Siantar mengikuti UU Darurat Nomor 8 Tahun 1956 dan PP Nomor 15 Tahun 1986.

Sebab di kedua peraturan perundang-undangan tersebut, penulisannya dipisah, yakni Pematang Siantar.

Perubahan penulisan, sebut Heri Okstarizal, tidak terlepas dari fasilitasi Biro Organisasi Pemprov Sumatera Utara. Yang menyebut, penulisan nama kota Pematang Siantar harus dipisah.

Biro Organisasi Pemprov Sumatera Utara meminta Pemko Pematang Siantar untuk melakukan klarifikasi. Hal itu pun dilakukan, sebut Heri Okstarizal.

Selanjutnya, Pemko Pematang Siantar memperhatikan sisi sejarah dari Kota Pematang Siantar. Salah satunya dengan memperhatikan buku berjudul “Masa Pemerintahan Kolonial Belanda di Pematang Siantar 1917 – 1942”.

“Dibuku itu selalu menulis dipisah. Kalau menurutku dipisah, kata penulis buku tersebut. Tanya lagi ada buku lain, sampai sekarang belum diberitahu,” ucap Heri Okstarizal menyampaikan pembicaraannya dengan penulis buku tersebut.

Dijelaskan, pemisahan penulisan juga beranjak dari sejarah Kerajaan Siantar, yang merupakan salah satu kerajaan di Simalungun.

Katanya, ibu kota kerajaan disebut pematang. Jadi ibu kota Siantar adalah Pematang Siantar. Begitu juga dengan Kerajaan Raya, ibu kotanya Pematang Raya, dan lainnya.

Lebih lanjut disampaikan, penulisannya digabung banyak ditemukan pada sejumlah peraturan daerah (Perda) yang pernah ada di Kota Pematang Siantar. “Hanya saja tidak tahu alasannya kenapa digabung,” ujarnya.

Penelusuran juga dilakukan dengan memperhatikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di KBBI tidak ditemukan kata siantar. Sedangkan kata pematang memiliki arti suatu tempat yang lebih tinggi.

Pun begitu, ditegaskan Heri Okstarizal, penulisan dipisah untuk nama Kota Pematang Siantar merupakan bentuk penegasan dan koreksi. Serta perubahan itu berlaku untuk internal Pemko Pematang Siantar. (*)

Editor: Purba

Tags: Ini Tanggapan Sejarawanjalatua hasugianPenulisan Pematang Siantar Harus Dipisah
Share118Tweet74Send

Related Posts

Ketua BKPRMI Siantar Imbau Kader Tidak Mudah Terprovokasi Informasi yang Belum Terkonfirmasi

Ketua BKPRMI Siantar Imbau Kader Tidak Mudah Terprovokasi Informasi yang Belum Terkonfirmasi

16/08/2026

SBNpro - Siantar Ketua DPD Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Pematangsiantar, Choir Parinduri mengimbau kader dan...

Anggota Komisi 1 DPRD Siantar Erwin Freddy Siahaan Sosialisasi Perda Nomor 1 Tahun 2021

Anggota Komisi 1 DPRD Siantar Erwin Freddy Siahaan Sosialisasi Perda Nomor 1 Tahun 2021

12/08/2026

SBNpro - Siantar Anggota Komisi 1 DPRD Kota Pematangsiantar Erwin Freddy Siahaan, MBA (HONS) BM sosialisasikan Peraturan Daerah Nomor 1...

Dinas PKP Siapkan Penataan Kawasan Kumuh di Kota Siantar

Dinas PKP Siapkan Penataan Kawasan Kumuh di Kota Siantar

10/08/2026

SBNpro - Siantar Pemko Siantar mulai mempercepat rencana penataan kawasan kumuh dengan menetapkan lima kelurahan sebagai prioritas penanganan. Langkah ini...

Pemko Siantar Salurkan Bantuan Rp10 Juta untuk Pedagang Korban Kebakaran Pasar Dwikora

Pemko Siantar Salurkan Bantuan Rp10 Juta untuk Pedagang Korban Kebakaran Pasar Dwikora

25/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar mulai menyalurkan bantuan kepada pedagang korban kebakaran Pasar Dwikora. Setiap kios yang terdampak...

Pemko Siantar Miliki Anggaran Pembangunan Kembali Kios Pasar Dwikora

Pemko Siantar Miliki Anggaran Pembangunan Kembali Kios Pasar Dwikora

24/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota Pematangsiantar menyatakan memiliki dan kemampuan anggaran untuk pembangunan kembali kios Pasar Dwikora yang terbakar beberapa...

Pascakebakaran, Pemko Siantar Bahas Pemulihan Pasar Dwikora Bersama Pedagang

Pascakebakaran, Pemko Siantar Bahas Pemulihan Pasar Dwikora Bersama Pedagang

23/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota Pematangsiantar menggelar pertemuan dengan ratusan pedagang korban kebakaran Pasar Dwikora untuk membahas langkah penanganan pascabencana....

Discussion about this post

TRENDING MINGGU INI

  • Ketua BKPRMI Siantar Imbau Kader Tidak Mudah Terprovokasi Informasi yang Belum Terkonfirmasi

    Ketua BKPRMI Siantar Imbau Kader Tidak Mudah Terprovokasi Informasi yang Belum Terkonfirmasi

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Pewaris Raja Sidamanik Op Naihorsik Ziarah Makam dan Maranggir

    516 shares
    Share 206 Tweet 129
  • Dulu Sangar, Sekarang Tak Terawat, Begini Cerita Tugu ‘Sedan’ di Simpang Kasindir…

    864 shares
    Share 412 Tweet 188
  • Batak dan Melayu Identitas Buatan Kolonial, Nenek Moyang Karo Lebih Tua dari Si Raja Batak

    665 shares
    Share 266 Tweet 166
  • 1000 Tahun Usia Batak, Ada 10 Generasi yang Hilang?

    667 shares
    Share 267 Tweet 167
  • Ini 31 Walikota Siantar Sepanjang Sejarah

    708 shares
    Share 283 Tweet 177
  • Daftar Nama Pejabat Pemko Siantar yang Dilantik

    110 shares
    Share 44 Tweet 28
SBNpro.com

© 2017-2024 SBN Pro

rotasi barak berita hari ini danau toba

Navigate Site

  • Redaksi
  • Privacy
  • Pedoman

Follow Us

No Result
View All Result
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO

© 2017-2024 SBN Pro

rotasi barak berita hari ini danau toba