SBNpro.com
Jumat, Juli 31, 2026
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO
No Result
View All Result
SBNpro.com
No Result
View All Result
SBNpro.com
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO
ADVERTISEMENT
Home Daerah

Daya Sengat Falsafah Simalungun

SBNPro.com by SBNPro.com
22/06/2023
A A
Daya Sengat Falsafah Simalungun
103
SHARES
224
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

“Memahami filosofi “Habonaron Do Bona” ternyata telah membawa peradaban orang Simalungun jauh lebih maju dan mampu bertahan dari berbagai tantangan zaman”.

Meski agama telah lama masuk ke Sumatra, orang-orang Simalungun tidaklah fanatik dengan agamanya. Mereka lebih menghidupi falsafah mereka yang populer yakni “Habonaron Do Bona”. Jika diterjemahkan, falsafah tersebut berarti kebenaran adalah dasar/pangkal.

Falsafah tersebut begitu kentara dihayati dan diamalkan oleh orang-orang Simalungun, di manapun mereka berada, bahkan ketika mereka berada di tanah perantauan. Jika diperinci, “kebenaran” itu tampak nyata dalam (1) berpandangan benar, (2) berniat benar, (3) berbicara benar, (4) bertindak benar, (5) berpenghidupan benar, dan (6) berusaha benar.

Letkol Purnawirawan MD Purba dalam buku ringkas berjudul Lintasan Sejarah Kebudayaan Simalungun (1986) menulis, petuah “Habonaron Do Bona” telah dihayati masyarakat yang mendiami daerah Simalungun sejak lama. Sehingga masa itu, di daerah Simalungun tidak pernah terjadi pencurian, penipuan, dusta, dan perilaku bejat lainnya. Sebab, semua penduduk setempat berusaha hidup benar dan berlaku jujur demi kepentingan bersama. Dusta, mencuri, menipu, dan perbuatan buruk lainnya dianggap sebagai perbuatan rendah dan hina.

“Itu sebabnya, rumah pun tidak perlu pakai kunci. Jika bepergian, cukup menutup pintu dan jendela pakai ganjal supaya tidak terbuka oleh angin atau tidak dimasuki ternak ayam. Orang saling menjaga,” tulisnya (hal.15).

Bahkan, sambung MD Purba, dengan menghidupi pedoman “Habonaron Do Bona “, orang bisa menaikkan status sosialnya. Orang yang terampil menjiwai dan menjalankan falsafah tersebut bisa terpilih atau diangkat menjadi Raja Nagur. (Hal.16). Kerajaan Nagur pertama berdiri di Simalungun pada sekitar abad 8 sampai 15.

Masih menurut MD Purba, sikap hidup orang Simalungun yang amat menjunjung falsafah “Habonaron Do Bona” itu juga tak lepas dari dua hal. Pertama, karena mereka menyadari diri mereka sebagai pendatang yang jauh dari kampung halaman, sehingga mereka menjadi orang yang lebih “tahu diri”, rendah hati dan berusaha untuk saling menolong.

Leluhur orang Simalungun diduga berasal dari Siam atau Champa, Kamboja. Mereka mengembara ke arah Timur dan Selatan dengan mengayuh perahu. Mereka yang menuju selatan berarti bergerak ke arah Kepulauan Nusantara.

Riset terbaru Balai Arkeologi Sumut menunjukkan migrasi manusia pertama kali terjadi di Sumatra kira-kira 12.000 hingga 8.400 tahun lampau. Dan migrasi pertama ditemukan di Nias. Ketua Balai Arkeologi Sumatra Utara Dr Ketut Wiradnyana mengatakan mereka telah mengidentifikasi tulang kaki gajah, batu, dan tengkorak manusia yang ditemukan saat eskavasi. Sedangkan migrasi kedua terjadi di Gayo sekitar 4.000 tahun lalu. Sedangkan migrasi gelombang ketiga diperkirakan terjadi 3.000 tahun lalu. Dan gelombang keempat terjadi sekitar 1.000 tahun lalu hingga 1 Masehi ketika budaya dongsong berkembang pesat di Asia Tenggara. “Paling sedikit telah terjadi lima migrasi di Sumatra,” papar Ketut.

Hasil temuan Balai Arkeologi Sumut juga sepadan dengan riset genetika yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman. Dr Herawati Sudoyo dari Eijkman Institut menyebut, kawasan Indonesia sudah dihuni oleh leluhur yang datang sejak 60 ribu tahun lalu. Tidak hanya memakai metode genetika, Herawati juga menganalisis sebaran bahasa, budaya, dan temuan-temuan arkeologi untuk menguatkan hasil temuannya.

Kedua, karena leluhur Simalungun di awal-awal sempat hidup berpindah-pindah, sehingga ikhtiar ajaran agama tidak begitu mengakar. Meskipun ajaran Hindu dan Buddha sudah lama berkembang. Kendati berpindah-pindah, mereka tetap menjalankan filosofi “Habonaron Do Bona” sebagai suluh dalam kehidupan.

Leluhur Simalungun berpindah-pindah disebabkan serangan penyakit “sappar” atau wabah kolera. Sappar merenggut banyak korban jiwa, sehingga orang Simalungun terpaksa harus mengungsi lantaran, waktu itu, belum ditemukan obat yang bisa menangkal wabah tersebut. Sebagian besar nenek moyang Simalungun mengungsi ke arah Barat dengan menyeberangi Danau Toba menuju ke Pulau Samosir. Sebagian lagi bergerak ke arah Timur ke daerah Selat Malaka yang didominasi penduduk Melayu.

Orang Simalungun yang pergi ke Samosir sebagian menetap di sana dan tak lagi kembali, mereka kemudian mulai terkena “sengat” budaya Batak Toba sehingga mereka mengawini penduduk Samosir. Itulah sebabnya, ada beberapa marga Simalungun di sana, yaitu Purba, Sinaga, Manik (dari Damanik dan Saragi (dari Saragih). Pemakaian huruf “H” perlahan ditinggalkan sehingga jamak kita dengan pemakaian kata “buluh” di Simalungun menjadi “bulu” di Samosir, “ualuh” menjadi “ualu”, “siah” menjadi “sia”, “sappuluh” menjadi “sappulu”, “Saragih” menjadi “Saragi”. Namun karena mereka amat menjaga hubungan kekeluargaan dan pergaulan dengan baik, maka kebudayaan orang Simalungun dengan Orang Samosir tampak banyak kesamaan, termasuk sifat dan bahasa.

Begitu juga dengan pengungsi yang bergerak ke Timur, mereka berusaha hidup dengan baik-benar. Mereka mudah menyatu dengan kaum pesisir dan nelayan dan mengikuti budaya Melayu pesisir. Sebagian dari mereka menetap di Selat Malaka, lainnya kembali ke daerah Simalungun setelah mendapat kabar wabah sappar telah hilang. Sekembalinya ke tanah Simalungun, mereka kembali hidup bertani dan tetap menjunjung kebenaran dan pola hidup marharoan (bergotong-royong).

Memahami filosofi “Habonaron Do Bona” ternyata telah membawa peradaban orang Simalungun jauh lebih maju dan mampu bertahan dari berbagai tantangan zaman. Orang-orang Simalungun juga cukup tahu diri bahwa sebagai perantau, mereka harus survive, sehingga jalan satu-satunya untuk bisa bertahan hidup adalah dengan senantiasa mengutamakan kepentingan umum. Dan sikap itu diwariskan turun-temurun melalui penghayatan terhadap filosofi “Habonaron Do Bona”. (K-DH)

Sumber : Indonesia.go.id

Tags: Daya sengat falsafah simalungunfalsafahfalsafah simalungunhabonaron do bonasimalungun
Share41Tweet26Send

Related Posts

Pemko Siantar Salurkan Bantuan Rp10 Juta untuk Pedagang Korban Kebakaran Pasar Dwikora

Pemko Siantar Salurkan Bantuan Rp10 Juta untuk Pedagang Korban Kebakaran Pasar Dwikora

25/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar mulai menyalurkan bantuan kepada pedagang korban kebakaran Pasar Dwikora. Setiap kios yang terdampak...

Pemko Siantar Miliki Anggaran Pembangunan Kembali Kios Pasar Dwikora

Pemko Siantar Miliki Anggaran Pembangunan Kembali Kios Pasar Dwikora

24/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota Pematangsiantar menyatakan memiliki dan kemampuan anggaran untuk pembangunan kembali kios Pasar Dwikora yang terbakar beberapa...

Pascakebakaran, Pemko Siantar Bahas Pemulihan Pasar Dwikora Bersama Pedagang

Pascakebakaran, Pemko Siantar Bahas Pemulihan Pasar Dwikora Bersama Pedagang

23/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota Pematangsiantar menggelar pertemuan dengan ratusan pedagang korban kebakaran Pasar Dwikora untuk membahas langkah penanganan pascabencana....

Pemko Siantar Beri Layanan Psikososial untuk Korban Kebakaran Pasar Dwikora

Pemko Siantar Beri Layanan Psikososial untuk Korban Kebakaran Pasar Dwikora

22/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota Pematangsiantar memberikan layanan dukungan psikososial kepada korban kebakaran Pasar Dwikora. Kegiatan berlangsung di Kantor Camat...

Indah Kurnia Tekankan Pentingnya Layanan Kesehatan Humanis dan Responsif

21/06/2026

SBNpro - Denpasar Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI, Indah Kurnia, menegaskan pentingnya pelayanan kesehatan yang mengutamakan...

Pukul Gonrang, Wali Kota Siantar Buka FASI XIII Sumut

Pukul Gonrang, Wali Kota Siantar Buka FASI XIII Sumut

20/06/2026

SBNpro - Siantar Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi membuka Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun...

Discussion about this post

TRENDING MINGGU INI

  • Daftar Nama Pejabat Pemko Siantar yang Dilantik

    Daftar Nama Pejabat Pemko Siantar yang Dilantik

    104 shares
    Share 42 Tweet 26
  • DWP Bersama TP PKK Simalungun Berbagi Tali Asih Kepada Anak-Anak Panti Asuhan

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Kasus Memandikan Jenazah Non Muhrim Seharusnya Dibuktikan di Pengadilan

    364 shares
    Share 146 Tweet 91
  • Takut Dipecat, Elma Theana Tidak Hadiri Persidangan Gatot Brajamusti

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Nasdem Siantar Gelar Pleno, Tongam Diusulkan Jadi Ketua Fraksi

    63 shares
    Share 25 Tweet 16
  • Dikunjungi RHS, Pekan Pematang Raya Heboh

    125 shares
    Share 50 Tweet 31
  • Keluarga Besar Simanjuntak Deklarasi Dukung Mangatas Silalahi-Ade Sandrawati Purba

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
SBNpro.com

© 2017-2024 SBN Pro

rotasi barak berita hari ini danau toba

Navigate Site

  • Redaksi
  • Privacy
  • Pedoman

Follow Us

No Result
View All Result
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO

© 2017-2024 SBN Pro

rotasi barak berita hari ini danau toba