SBNpro.com
Senin, Oktober 12, 2026
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO
No Result
View All Result
SBNpro.com
No Result
View All Result
SBNpro.com
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO
ADVERTISEMENT
Home Daerah

Daya Sengat Falsafah Simalungun

SBNPro.com by SBNPro.com
22/06/2023
A A
Daya Sengat Falsafah Simalungun
106
SHARES
231
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

“Memahami filosofi “Habonaron Do Bona” ternyata telah membawa peradaban orang Simalungun jauh lebih maju dan mampu bertahan dari berbagai tantangan zaman”.

Meski agama telah lama masuk ke Sumatra, orang-orang Simalungun tidaklah fanatik dengan agamanya. Mereka lebih menghidupi falsafah mereka yang populer yakni “Habonaron Do Bona”. Jika diterjemahkan, falsafah tersebut berarti kebenaran adalah dasar/pangkal.

Falsafah tersebut begitu kentara dihayati dan diamalkan oleh orang-orang Simalungun, di manapun mereka berada, bahkan ketika mereka berada di tanah perantauan. Jika diperinci, “kebenaran” itu tampak nyata dalam (1) berpandangan benar, (2) berniat benar, (3) berbicara benar, (4) bertindak benar, (5) berpenghidupan benar, dan (6) berusaha benar.

Letkol Purnawirawan MD Purba dalam buku ringkas berjudul Lintasan Sejarah Kebudayaan Simalungun (1986) menulis, petuah “Habonaron Do Bona” telah dihayati masyarakat yang mendiami daerah Simalungun sejak lama. Sehingga masa itu, di daerah Simalungun tidak pernah terjadi pencurian, penipuan, dusta, dan perilaku bejat lainnya. Sebab, semua penduduk setempat berusaha hidup benar dan berlaku jujur demi kepentingan bersama. Dusta, mencuri, menipu, dan perbuatan buruk lainnya dianggap sebagai perbuatan rendah dan hina.

“Itu sebabnya, rumah pun tidak perlu pakai kunci. Jika bepergian, cukup menutup pintu dan jendela pakai ganjal supaya tidak terbuka oleh angin atau tidak dimasuki ternak ayam. Orang saling menjaga,” tulisnya (hal.15).

Bahkan, sambung MD Purba, dengan menghidupi pedoman “Habonaron Do Bona “, orang bisa menaikkan status sosialnya. Orang yang terampil menjiwai dan menjalankan falsafah tersebut bisa terpilih atau diangkat menjadi Raja Nagur. (Hal.16). Kerajaan Nagur pertama berdiri di Simalungun pada sekitar abad 8 sampai 15.

Masih menurut MD Purba, sikap hidup orang Simalungun yang amat menjunjung falsafah “Habonaron Do Bona” itu juga tak lepas dari dua hal. Pertama, karena mereka menyadari diri mereka sebagai pendatang yang jauh dari kampung halaman, sehingga mereka menjadi orang yang lebih “tahu diri”, rendah hati dan berusaha untuk saling menolong.

Leluhur orang Simalungun diduga berasal dari Siam atau Champa, Kamboja. Mereka mengembara ke arah Timur dan Selatan dengan mengayuh perahu. Mereka yang menuju selatan berarti bergerak ke arah Kepulauan Nusantara.

Riset terbaru Balai Arkeologi Sumut menunjukkan migrasi manusia pertama kali terjadi di Sumatra kira-kira 12.000 hingga 8.400 tahun lampau. Dan migrasi pertama ditemukan di Nias. Ketua Balai Arkeologi Sumatra Utara Dr Ketut Wiradnyana mengatakan mereka telah mengidentifikasi tulang kaki gajah, batu, dan tengkorak manusia yang ditemukan saat eskavasi. Sedangkan migrasi kedua terjadi di Gayo sekitar 4.000 tahun lalu. Sedangkan migrasi gelombang ketiga diperkirakan terjadi 3.000 tahun lalu. Dan gelombang keempat terjadi sekitar 1.000 tahun lalu hingga 1 Masehi ketika budaya dongsong berkembang pesat di Asia Tenggara. “Paling sedikit telah terjadi lima migrasi di Sumatra,” papar Ketut.

Hasil temuan Balai Arkeologi Sumut juga sepadan dengan riset genetika yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman. Dr Herawati Sudoyo dari Eijkman Institut menyebut, kawasan Indonesia sudah dihuni oleh leluhur yang datang sejak 60 ribu tahun lalu. Tidak hanya memakai metode genetika, Herawati juga menganalisis sebaran bahasa, budaya, dan temuan-temuan arkeologi untuk menguatkan hasil temuannya.

Kedua, karena leluhur Simalungun di awal-awal sempat hidup berpindah-pindah, sehingga ikhtiar ajaran agama tidak begitu mengakar. Meskipun ajaran Hindu dan Buddha sudah lama berkembang. Kendati berpindah-pindah, mereka tetap menjalankan filosofi “Habonaron Do Bona” sebagai suluh dalam kehidupan.

Leluhur Simalungun berpindah-pindah disebabkan serangan penyakit “sappar” atau wabah kolera. Sappar merenggut banyak korban jiwa, sehingga orang Simalungun terpaksa harus mengungsi lantaran, waktu itu, belum ditemukan obat yang bisa menangkal wabah tersebut. Sebagian besar nenek moyang Simalungun mengungsi ke arah Barat dengan menyeberangi Danau Toba menuju ke Pulau Samosir. Sebagian lagi bergerak ke arah Timur ke daerah Selat Malaka yang didominasi penduduk Melayu.

Orang Simalungun yang pergi ke Samosir sebagian menetap di sana dan tak lagi kembali, mereka kemudian mulai terkena “sengat” budaya Batak Toba sehingga mereka mengawini penduduk Samosir. Itulah sebabnya, ada beberapa marga Simalungun di sana, yaitu Purba, Sinaga, Manik (dari Damanik dan Saragi (dari Saragih). Pemakaian huruf “H” perlahan ditinggalkan sehingga jamak kita dengan pemakaian kata “buluh” di Simalungun menjadi “bulu” di Samosir, “ualuh” menjadi “ualu”, “siah” menjadi “sia”, “sappuluh” menjadi “sappulu”, “Saragih” menjadi “Saragi”. Namun karena mereka amat menjaga hubungan kekeluargaan dan pergaulan dengan baik, maka kebudayaan orang Simalungun dengan Orang Samosir tampak banyak kesamaan, termasuk sifat dan bahasa.

Begitu juga dengan pengungsi yang bergerak ke Timur, mereka berusaha hidup dengan baik-benar. Mereka mudah menyatu dengan kaum pesisir dan nelayan dan mengikuti budaya Melayu pesisir. Sebagian dari mereka menetap di Selat Malaka, lainnya kembali ke daerah Simalungun setelah mendapat kabar wabah sappar telah hilang. Sekembalinya ke tanah Simalungun, mereka kembali hidup bertani dan tetap menjunjung kebenaran dan pola hidup marharoan (bergotong-royong).

Memahami filosofi “Habonaron Do Bona” ternyata telah membawa peradaban orang Simalungun jauh lebih maju dan mampu bertahan dari berbagai tantangan zaman. Orang-orang Simalungun juga cukup tahu diri bahwa sebagai perantau, mereka harus survive, sehingga jalan satu-satunya untuk bisa bertahan hidup adalah dengan senantiasa mengutamakan kepentingan umum. Dan sikap itu diwariskan turun-temurun melalui penghayatan terhadap filosofi “Habonaron Do Bona”. (K-DH)

Sumber : Indonesia.go.id

Tags: Daya sengat falsafah simalungunfalsafahfalsafah simalungunhabonaron do bonasimalungun
Share42Tweet27Send

Related Posts

Ketua BKPRMI Siantar Imbau Kader Tidak Mudah Terprovokasi Informasi yang Belum Terkonfirmasi

Ketua BKPRMI Siantar Imbau Kader Tidak Mudah Terprovokasi Informasi yang Belum Terkonfirmasi

16/08/2026

SBNpro - Siantar Ketua DPD Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Pematangsiantar, Choir Parinduri mengimbau kader dan...

Anggota Komisi 1 DPRD Siantar Erwin Freddy Siahaan Sosialisasi Perda Nomor 1 Tahun 2021

Anggota Komisi 1 DPRD Siantar Erwin Freddy Siahaan Sosialisasi Perda Nomor 1 Tahun 2021

12/08/2026

SBNpro - Siantar Anggota Komisi 1 DPRD Kota Pematangsiantar Erwin Freddy Siahaan, MBA (HONS) BM sosialisasikan Peraturan Daerah Nomor 1...

Dinas PKP Siapkan Penataan Kawasan Kumuh di Kota Siantar

Dinas PKP Siapkan Penataan Kawasan Kumuh di Kota Siantar

10/08/2026

SBNpro - Siantar Pemko Siantar mulai mempercepat rencana penataan kawasan kumuh dengan menetapkan lima kelurahan sebagai prioritas penanganan. Langkah ini...

Pemko Siantar Salurkan Bantuan Rp10 Juta untuk Pedagang Korban Kebakaran Pasar Dwikora

Pemko Siantar Salurkan Bantuan Rp10 Juta untuk Pedagang Korban Kebakaran Pasar Dwikora

25/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar mulai menyalurkan bantuan kepada pedagang korban kebakaran Pasar Dwikora. Setiap kios yang terdampak...

Pemko Siantar Miliki Anggaran Pembangunan Kembali Kios Pasar Dwikora

Pemko Siantar Miliki Anggaran Pembangunan Kembali Kios Pasar Dwikora

24/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota Pematangsiantar menyatakan memiliki dan kemampuan anggaran untuk pembangunan kembali kios Pasar Dwikora yang terbakar beberapa...

Pascakebakaran, Pemko Siantar Bahas Pemulihan Pasar Dwikora Bersama Pedagang

Pascakebakaran, Pemko Siantar Bahas Pemulihan Pasar Dwikora Bersama Pedagang

23/06/2026

SBNpro - Siantar Pemerintah Kota Pematangsiantar menggelar pertemuan dengan ratusan pedagang korban kebakaran Pasar Dwikora untuk membahas langkah penanganan pascabencana....

Discussion about this post

TRENDING MINGGU INI

  • 1000 Tahun Usia Batak, Ada 10 Generasi yang Hilang?

    738 shares
    Share 295 Tweet 185
  • Sumiharjo Pakpahan, Orang Susah dari Siantar, Hingga Menjadi Mayjen TNI

    1934 shares
    Share 832 Tweet 459
  • “Marharoan Bolon” Kekuatan Bersama Membangun Simalungun

    103 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Diduga Menipu, dr Robertus Maulana Dijebloskan ke Penjara

    189 shares
    Share 76 Tweet 47
  • Pewaris Raja Sidamanik Op Naihorsik Ziarah Makam dan Maranggir

    520 shares
    Share 208 Tweet 130
  • Ini 31 Walikota Siantar Sepanjang Sejarah

    725 shares
    Share 290 Tweet 181
  • Deputi Gubernur Kukuhkan Edhi Rahmanto Jadi Kepala Perwakilan BI Siantar

    75 shares
    Share 30 Tweet 19
SBNpro.com

© 2017-2024 SBN Pro

rotasi barak berita hari ini danau toba

Navigate Site

  • Redaksi
  • Privacy
  • Pedoman

Follow Us

No Result
View All Result
  • SIANTAR
  • SIMALUNGUN
  • SUMUT
  • NASIONAL
  • KOLOM
  • KESEHATAN
  • KOMUNITAS
  • TEKNOLOGI
  • VIDEO

© 2017-2024 SBN Pro

rotasi barak berita hari ini danau toba